Indonesia Lagi Keminggris

Errr... sebenarnya saya menulis ini agak malu. Karena inti tulisan ini nantinya adalah hendak mengkritik orang Indonesia yang lagi sedang di fase keminggris (keinggris-inggrisan ~ atau dalam konteks ini artinya lebih bangga mahir bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah!). Nah, gimana mau sok-sokan mengkritik, kalo saya sendiri sejujurnya suka keminggris juga. Tapi saya gag munafik lah, saya ini termasuk kaum yang keminggris, ngerasa sedikit cerdas kalo bikin status pake bahasa Inggris - biarpun grammar saya gag karuan dan kadang harus ngecek dulu di google. Haha.

Dan saya juga ragu-ragu, karena tulisan ini mungkin juga akan membuat kamu yang sudah fasih berbahasa Inggris ngerasa disindir. Saya sih bukan bermaksud menyindir kamu, kan saya juga keminggris! Tapi menurut saya, fase keminggris orang Indonesia ini sudah agak-agak perlu diwaspadai. Karena itu saya menghargai mereka yang tidak bisa berbahasa Inggris, karena bagi saya mereka adalah penyelamat bahasa Indonesia (termasuk bahasa lokal, dengan dialek khasnya). Ngomong-ngomong, selain keminggris Indonesia ini lagi ada demam "ngarab" juga, alias kearab-araban. Cuma saya di sini lagi gag mau ngomongin ngarab, karena saya yakin urusannya nanti lebih panjang!


....
Gimana sih sampai saya bisa ngerasa bahwa orang urban Indonesia lagi keminggris? Berikut ini tanda-tanda kiamat eh tanda-tanda keminggris. Perhatikan saja situasi yang terjadi belakangan ini, dimulai dari hadirnya internet beserta perangkat teknologi serbuan asing, Indonesia boleh dibilang pelan-pelan terseret oleh arus globalisasi. Akibatnya, bahasa Inggris pelan-pelan menancapkan pengaruhnya ke dalam banyak aspek penggunaan bahasa di Indonesia. Mungkin juga akibat bahasa Indonesia yang relatif baru dibandingkan bahasa Inggris, serta ketidaksiapan kita untuk mempopulerkan terjemahan bahasa Indonesia untuk beberapa istilah bahasa Inggris yang udah kadung populer. Sebagai contoh: apakah kamu familiar dengan arti penyintas, petahana, pratinjau, gawai, surel? Mungkin beberapa dari kalian gag paham. Tapi coba apakah kalian familiar dengan: survivor, incumbent, preview, gadget, email? Nah itu ternyata bahasa Inggrisnya. *Ngomong-ngomong coba deh rajin-rajin baca koran kompas, tuh koran konsisten banget untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Harus diakui pula, pelaku kejahatan keminggris ini dimulai oleh orang-orang Jakarta. Mau tidak mau, ibu kota negara kita ini melahirkan penduduk metropolis yang jauh lebih maju, melek informasi, melek teknologi dibandingkan kota - kota lain di daerah (termasuk Surabaya, kota saya ini). Belum lagi kebanyakan media informasi nasional juga dipusatkan di Jakarta, sehingga jelas sangat mempengaruhi daerah lainnya. Hingga lima belas tahun lalu, orang-orang Jakarta ini mempopulerkan pemakaian gue-elo yang fenomenal itu. Gimana ga fenomenal, karena gue-elo merasuk ke orang-orang Surabaya untuk pake gue-elo juga, padahal biasane aku-kon. Tapi yang saya lihat sekarang tampaknya trend bergeser, karena Jakartans ini sekarang dari gue-elo kini begitu fasihnya berbahasa Inggris, sehingga menciptakan nuansa semacam bahasa gado-gado ala Singapur. Gag percaya? Liat aja sosial media anak-anak muda hit Jakarta dan kota-kota besar lainnya, pasti kebanyakan pake bahasa Inggris yang udah canggih.

Naaaahh... yang lebih buruk lagi adalah ketika dunia pendidikan kita juga keblinger dengan apa-apa yang berbau bahasa Inggris. Program RSBI (Rintisan Sekolah Berbasis Internasional) adalah yang saya maksud. Tujuannya sih sudah bagus (pengen standar Internasional gitu lah), tapi nyatanya di lapangan RSBI ini jadi lelucon. Sebelum akhirnya dicabut oleh MK, RSBI dikritik karena program bilingualnya yang dicap sebagian kalangan gag nasionalis (daripada mengasah kemampuan bahasa Inggris, lebih penting ngasah pola pikir!), serta cuma membuat jurang pemisah yang kaya dan miskin makin lebar karena biaya sekolahnya yang mahal. Contoh lain yang lebih konyol lagi adalah ketika Dispendik Surabaya hendak menerapkan program dimana sekolah diminta menggunakan bahasa Jawa 2 hari dalam seminggu. Konyolnya, nama program ini "Java Day" ~ pake bahasa Inggris, lak lucu! (Tapi kebijakan ini juga gag jadi diterapin, karena mungkin kegiatan belajar mengajar di kelas jadi kocak kayak pojok kampung JTV).



....
Apa salahnya sih dengan keminggris? 
Menggunakan bahasa Inggris bukan berarti gag nasionalis kan?

Iya sih, tapi menurut saya itu argumen yang rentan. Karena bahasa Indonesia (dan bahasa daerah lainnya) adalah identitas kita sebagai orang Indonesia (atau orang daerah). Harusnya, bahasa menjadi simbol kebanggaan kita kan. Bukan kita menggadaikan bahasa kita. Okelah kita bisa bahasa Inggris, tapi harus tahu situasi dan kondisi, gag perlu lah harus apa-apa dinggris-inggriskan demi kepentingan komersial maupun supaya dicap "maju". Jangka panjangnya, kalo semua orang Indonesia lebih jago bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, bisa-bisa bahasa nasional kita jadi bahasa Inggris. Kan goblok!

Sebenarnya kesedihan saya akan demam keminggris ini dimulai kala saya merintis merek usaha lokal saya. Ada beberapa hal yang saya perhatikan. Pertama, saya melihat bahwa merek usaha lokal yang dirintis anak-anak gaul kebanyakan menggunakan bahasa Inggris, atau kadang-kadang pake bahasa non-Indonesia. Kalaupun ada yang pake bahasa Indonesia, pasti rata-rata jualan makanan, atau kalo gag jualan kerajinan khas Indonesia, seperti batik misalnya. Saya ini termasuk yang kecele waktu tahu sepatu Andre Valentino ternyata asli Indonesia, kirain wong Itali. Ada juga contoh-contoh lainnya: Polytron, Edward Forrer, Sophie Martin, Terry Palmer, hingga The Excecutive, yang ternyata semuanya produk lokalKatanya sih alasan umum dipilihnya bahasa Inggris adalah: supaya mudah go international. Alasan rahasianya: mental inlander. Kedua, saya menyadari untuk bisa dicap sebagai merk lokal kalangan menengah, saya harus menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi di pemasaran online saya. Kalau nggak, saya bisa dicap level alay macam-macam ibuk-ibuk jualan baju reseller. Kesannya kalo pake bahasa Inggris kan lebih gimanaaaaa gitu (dasar emang mental begitu!).

Mengenai hal yang kedua, komunikasi online dengan bahasa Inggris, saya belum bisa melepaskan diri dari kebiasaan itu, karena sebagai penjual saya kudu keminggris supaya keren. Ini menyedihkan memang, tapi yaaaa.... saya gag bisa berbuat banyak. Mengenai yang pertama, dimana merk lokal banyak yang keminggris, saya bisa sedikit idealis. Saya punya merk yang menggunakan bahasa Indonesia: kamicinta dan soraksorai. Memang sudah menjadi komitmen awal untuk membuat merk dalam bahasa Indonesia, karena kami memang ingin diketahui bahwa kami asli Indonesia. Ga takut gag keliatan internasional? Di sinilah saya coba idealis, biarpun saya lagi bisnis. Menurut saya go internasional gag harus keminggris. Lha coba deh lihat bagaimana Jepang yang punya kebanggaan tinggi terhadap identitas bangsanya, tidak masalah dengan merk-merk kendaraan mereka yang sangat Jepang: Honda, Yamaha, Mitsubishi. Korea dengan Hyundai dan Samsung. Lalu merk-merk Eropa seperti Louis Vuitton dan Gucci, yang pronunciation-nya membingungkan (buat orang barat maupun kita) ~ tapi mereka malah memaksa kita mengucapkan sesuai pengucapan aslinya.

Saya ini juga terbilang jarang nonton TV lokal (kan saya emang keminggris!), tapi dulu sempet suka sama acara talent show di RCTI dimana Anang dan Ahmad Dhani jadi jurinya. Acara talent show itu kebetulan sangat keminggris, karena kontestannya rata-rata nyanyi lagu-lagu barat (kalo cari yang nyanyi lagu dangdut, carinya di channel sebelah yang MC-nya Nassar dan jurinya Saipul Jamil). Bukan rahasia lagi kalo Ahmad Dhani bukan juri yang kompeten, dan salah satu hal yang kerap dia singgung adalah ketika dia merasa terganggu saat kontestan bernyanyi bahasa inggris namun dengan pronunciation yang tidak benar, dengan aksen yang katanya kurang "inggris", alias masih kelihatan Indonesianya. Ini yang saya sebalkan, karena kan kita ancen dudu wong inggris, ya jelas aja aksennya ya bukan aksen inggris. Apakah itu masalah? Coba lihat aja deh aksen orang Inggris, India dan Australia berbeda. Di Amerika aja aksen orang New York ama Texas beda. Orang Perancis, Italia, Jepang, Afrika, kalau ngomong bahasa Inggris tidak bisa menanggalkan aksen khas mereka. Dan menurut saya itu yang benar! Kalo orang Indonesia ngomong bahasa inggrisnya pating gratul, dengan aksen yang masih medok, itu wajar lah. Kan emang orang Indonesia, bukan orang Inggris. Ini pun akhirnya menjadi motto saya: MEDOK ADALAH IDENTITAS. 

Lalu ada sebuah kejadian di acara yang sama, ketika Anang menceletuk, "Kenapa jarang yang nyanyi lagu Indonesia sih?".
Lalu Dhani menjawab, "Ya kan supaya internasional - supaya bule bisa memahami lagu dan apa yang hendak kita sampaikan,".
Jawab Anang: "Ya suruh bule itu donk yang belajar bahasa Indonesia!".

Saya biasanya gag suka sama Anang (entah kenapa, mungkin karena gaya bicaranya?), namun untuk kali itu saya setuju pol. Ketika ada yang bilang jagolah bahasa Inggris, supaya gag gelagapan kalo kerja di perusahaan multinasional, kenapa gag nyuruh si bule yang kerja di Indonesia ini supaya belajar bahasa Indonesia juga. Jangan kita aja yang disuruh pinter bahasa ente! (Keliatan sombong ya? Ya gapapalah harus sombong dikit biar gag kehilangan identitas).

Sebenarnya, sebagai orang yang (pernah) kesengsem dengan dunia K-pop, harus diakui industri K-pop adalah salah satu solusi mengatasi keminggris, tanpa menghilangkan identitas lokal. Korea Invansion dalam hal budaya pop begitu masif dilakukan, tanpa meninggalkan citra khas mereka sendiri. Sebagai contoh, lagu populer mereka, dengan judul dalam bahasa Inggris, dan reffrain bahasa Inggris adalah cara mereka untuk membuat lagu mereka begitu catchy dinyanyikan banyak orang (karena kalo pake bahasa Korea siapa yang bisa nyanyi?), namun tetap saja mayoritas isi lagu mereka berbahasa Korea. Hal ini justru membuat mereka orang-orang non Korea yang keranjingan Kpop malah belajar bahasa Korea. Pinter kan? Dan setau saya, orang-orang negara maju macam Korea, Jepang, Cina, Perancis, dan Jerman juga pada banyak yang gag bisa bahasa Inggris kok, dan mereka maju aja. Ga peduli. Dan bangga dengan identitas mereka sendiri.




....
Saya tahu tulisan saya di atas hanya sekedar analisa ngawur, tapi itulah yang saya amati dari keadaan yang ada di Indonesia. Sebenarnya uneg-uneg ini sudah kepengen banget saya sampaikan ke banyak orang, dan beberapa di antaranya memang suka saya suarakan kepada teman-teman saya yang mau mendengarkan. Menyedihkan ketika bahasa Indonesia tidak lagi menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Harusnya kita bangga lho, sebagai bangsa yang pernah dijajah, kita masih punya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional - tidak seperti negara-negara lain yang "terpaksa" menggunakan bahasa negara yang menjajah (seperti Brasil, Argentina, dkk). Nah kan sedih tho, kalo wong Indonesia malah bangga bisa bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah yang kini perlahan ditinggalkan karena dicap "kampung". Susah memang untuk mempertahankan idealisme ini, namun saya harap trend keminggris ini sekedar trend belaka, dan Indonesia tidak lagi krisis identitas.

Komentar

  1. Kali ini saya setuju 100 % dengan anda

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer