2/13/2017

Kenapa Cari Jodoh Itu Susah

Judulnya provokatif dan agak click-bait. Sengaja.

Jika saat ini Anda membaca tulisan ini dengan suami/istri/pacar di samping Anda, dan Anda berpikir kenapa cari jodoh itu tidak sesusah yang saya ungkapkan di sini... maka bersyukurlah dan tetaplah optimis ~

Izinkan saya, di Valentine's Day ini mengeluarkan uneg-uneg saya soal cinta. Halah.

...


Saya tahu definisi jodoh itu berbeda dari masa ke masa. Jaman dulu orang tidak menikah karena cinta, tapi lebih disebabkan karena perjodohan - yang bisa jadi karena kepentingan ekonomi, politik, seks, keluarga, dll. Termasuk di antaranya adalah metode taaruf itu. Perlahan, seiring dengan perubahan jaman di kalangan urban dan kisah romantis yang terlalu didramatisir, maka pernikahan karena cinta menjadi sesuatu yang wajar saat ini. Apalagi ditambah kesakralan akan seks tidak lagi sekuat era konservatif, penilaian orang di kalangan "liberal" untuk menikah lebih didasarkan pada "celebrating love" bukan sekedar "mencegah perzinahan" sebagaimana ajaran agama.

Sebenarnya saya bukan tipe petualang cinta (soalnya ga punya kapabilitas untuk itu sih), tapi kebetulan saya suka mengamati cerita-cerita orang tentang cinta dan pernikahan. Saya menikmati cerita - cerita itu dan menjadikan itu sebagai bagian dari pembelajaran diri saya hingga saya bisa sok-sokan nulis ini. Dari dulu saya orangnya berusaha untuk realistis dan gag muluk-muluk. Saya suka film-film romantis, tapi saya tahu itu ga real. Saya juga kerap merasa bahwa cinta itu cuma fantasi yang dibesar-besarkan aja. Jodoh adalah kebetulan yang diromantisir. Tapi yaaa... namanya perempuan ya. Tetap aja saya pengen ketemu Mr. Right Guy. Kalo bisa yang seganteng Michael Fassbender, kaya, setia, dan romantis, agak kinky kayak Christian Grey ga masalah....... yang penting hot dan kaya.  

Saya tahu pemikiran ini sesat.... Pesimisme (baca: realistis) itu bikin hidup emang jadi nggak seindah novel-novel romantis. Jadi terkadang saya suka mikir mending kita terbenam pada fantasi-fantasi bahagia soal cinta aja daripada dikasih tahu kalau cinta itu cuma efek hormonal di kepala (anyway, toh cinta adalah hasil perbudakan evolusi manusia untuk berkembang biak). 


Oke, mari saya coba jabarkan kenapa cari jodoh itu secara scientific (*halah) emang susah.

#1 
JODOH ITU SUKA SAMA SUKA


Nah, sedari awal nemu yang suka sama suka aja udah susah. Kita naksir orang, eh orangnya nggak mau. Kita dekat sama orang, eh kita di-friendzone-in doank. Begitu kita ditaksir orang, eh kita yang nggak ada feeling. Nah kan dari awal aja nemu yang suka sama suka aja udah susah. Secara probabilitas matematis, berapa orang yang kita sukai dalam suatu waktu? 1-2 orang mungkin. Nah berapa probabilitas nih orang suka balik sama kita? Entah! 

Untunglah.... Tuhan memudahkan jalan dari kekacauan matematis ini dengan bikin skema dimana si cowok hunting, dan si cewek nunggu dideketin. Untung pula biasanya cewek gampang baper kalo dimanis-manisin cowok. Jadi peluang suka sama suka itu jadi lebih lebar. Untung pula, orang biasanya cenderung tertarik dengan orang yang mirip dengan dirinya sendiri. Jadi, yang nerd biasanya suka sama yang nerd, yang gaul suka sama yang gaul. 

#2
JODOH ITU MELIBATKAN PERASAAN / EMOSIONAL YANG SUPER ABSURD


Tahu kan ungkapan cinta itu buta? Sometimes we love someone and we don't even know why... Bisa jadi karena doi baik hati, karena cantik, karena kalo senyum manis banget, atau karena dia yang nolongin kita pas kita jatuh di jalan (kayak FTV-FTV). Terlepas dari manusia bersikeras sebagai makhluk pintar yang mengaku punya rasionalitas maha pintar di kepala, nggak bisa nggak, cinta melibatkan sejumlah hormon-hormon atau dorongan evolusi di otak. 

Saya kutip cinta dari artikel saya sebelum ini: 
"Rupanya scientist punya penjelasan ilmiahnya sendiri. Dijabarkan ilmiah begini bikin nilai "cinta" sendiri tak ubahnya halusinasi akibat aktivitas otak di kepala. Menurut bidang ilmu biologi, cinta terbagi di 3 stage: lust, attraction dan attachment. Stage 1 adalah lust, yang menunjukkan keinginan secara seksual (mungkin tanpa kamu sadari, tapi terbukti cinta pada pandangan pertama biasanya terjadi kepada mereka yang secara fisik sesuai dengan tipemu). Lust ini katanya paling lama bertahan beberapa bulan. Lalu tahap berikutnya adalah romantic attraction, or when you are falling in love. Penelitian di bidang neurosains menunjukkan bahwa ketika jatuh cinta, otak kita mengeluarkan serangkaian zat kimia seperti serotonin dan dopamin - zat kimia dalam otak yang diketahui bertanggung jawab terhadap rasa bahagia. Apakah kamu merasa dunia begitu indah dan hatimu berdebar-debar ketika jatuh cinta? Oh hey, that's just your chemical stuff on your brain speaking! Berita buruknya: proses jatuh cinta ini hanya bertahan paling lama tiga tahun. Ketika masa indah ini berakhir, maka stage berikutnya adalah : attachmentAttachment ini adalah hal yang diperlukan supaya hubungan percintaanmu bertahan lama. Attachment ini bisa berupa komitmen (pacaran, pernikahan) atau mempunyai anak bersama,"
Kalau based on biology evolutionary, biasanya manusia cenderung tertarik dengan orang yang memiliki gen-gen yang sama dengan dirinya. Kenapa? Karena kecenderungan "gen egois" manusia untuk mewariskan gen-gen dirinya ke keturunannya. Itulah kenapa saya rasa yang menyebabkan "jodoh kok mukanya sering mirip", atau tertarik dengan orang yang punya kemiripan hobi, bakat, dll. Bisa juga (menurut penelitian beneran nih), manusia punya kecenderungan untuk tertarik dengan pasangan yang mirip orang tuanya. Saya menemukan beberapa perempuan yang tertarik dengan pria-pria yang mirip bapaknya sendiri (termasuk saya! Haha). By the way, namanya kecenderungan ya belum tentu ini 100% akurat. 

So, terlepas dari cinta itu jangan dilihat dari fisik, mau ga mau otak di kepala kita memiliki pemograman ketertarikan berdasarkan penampilan luar. Well, physical attraction itu penting - at least untuk stage jatuh cinta pertama (bukan yang tipikal witing trisno jalaran soko kulino ya). Ini ga berarti kita hanya tertarik sama yang cantik dan yang ganteng sih, karena toh cantik dan ganteng itu relatif. (Misal: saya cenderung tertarik sama cowok-cowok berkulit gelap dan mukanya kasar - jadi bukan tipikal cowok ganteng mainstream, atau ada juga cowok yang suka naksir sama cewek-cewek mungil yang lucu - bukannya yang seksi).  

Selain attraction by physical (attraction boleh dimaknai sebagai "tipe pasangan idaman", dan physical attraction juga bisa dimaknai sebagai sexual attraction), ketertarikan selanjutnya biasanya berupa chemistry. Ini susah dijelaskan sih. Keliatannya seseorang rupawan dan pintar nan sempurna, tapi chemistry-nya nol besar dan kita ga bisa tertarik lama-lama sama dia. Bagi saya, chemistry ini seperti "irama" antara dua orang. Jika iramanya pas, maka ada semacam tarian yang harmonis, jika tidak ya gag cocok... Dan chemistry ini yang sukar dibohongi. Saya merasa ada orang yang bisa gampang build-chemistry dengan lawan jenis, ada yang susah. Nah saya termasuk yang susah kayaknya. 

Ada juga nilai-nilai emosional tertentu dari lawan jenis (atau sesama jenis, whatever, I don't judge) yang bisa bikin kita jatuh cinta dengan mudah. Ini juga susah dijabarkan. Kenapa? Karena kita sebagai manusia kadang nggak pernah benar-benar tahu apa yang kita inginkan. Misal ada perempuan yang menarget bahwa laki-laki idamannya adalah "bertanggung jawab". Namun sebenarnya alam bawah sadarnya mendefinisikan bertanggung jawab sebagai kemapanan. Kasarnya nih cewek sebenarnya matre (wajar sih), tapi jelas dia nggak mau mengakui fakta itu dengan berani. Jadi kata "bertanggung jawab"-lah yang keluar dari mulutnya. Pengalaman saya sendiri, sejak gagal dengan mantan, saya cenderung merasa bahwa saya hendak mencari pria pintar yang bisa lebih dominan dari saya, namun ternyata saya menyadari bahwa preferensi ketertarikan saya ada pada cowok-cowok idealis yang nggak sombong dan tipe baik hati serupa Ron Weasley atau Peeta Mellark. Pinter tapi kalo nggak idealis biasanya saya gag tertarik. Jadi, apa yang saya pikir mau, ternyata bukan itu yang ada di otak saya....

#3
JODOH DAN PERNIKAHAN DIBATASI RASIONALITAS DAN SOCIETY


Oke, cinta itu buta... tapi ungkapan selanjutnya adalah : makan tuh cinta! Cinta doank ga cukup!

Kalo menikah karena cinta doank tanpa memikirkan hal-hal lainnya, maka cari jodoh untuk dinikahi tidak akan serumit itu. Setelah kita attracted sama orang, maka banyak pertimbangan-pertimbangan rasionalitas dan sosial yang membatasi. 

Pertimbangan ini bisa berupa semacam pertimbangan-pertimbangan ekonomi, agama, norma, budaya, strata sosial, dll. Misal nih, kamu pangeran dan jatuh cinta sama perempuan miskin. Nggak bakalan bisa. Misal kamu jatuh cinta tapi beda agama... susah juga kan? Misal kamu jatuh cinta tapi si cowok pekerjaannya nggak jelas, apa iya orangtua kamu bakal segampang itu melepaskan kamu? Misal kamu jatuh cinta tapi si cewek matre dan cuma mau morotin kamu, apa iya kamu bakal bertahan? Ya mungkin awal pernikahan kamu betah-betah aja dengan "ke-apa-adanya-an" dia, tapi cinta itu gampang pudar lho (saya berasumsi ini karena faktor kemampuan otak manusia untuk beradaptasi). Jadi saya pikir pertimbangan rasionalitas itu penting sebelum gegabah. 

Maka, mencari jodoh itu makin susah.... Ada orang baik kita ga attracted, ada orang yang kita attracted eh orangnya ga baik... atau beda agama... atau beda ras... Ya Allah... 

#4 
CINTA SUKA TIDAK TEPAT WAKTU


Ini mirip novel milik Puthut EA berjudul "Cinta Tidak Pernah Tepat Waktu" (belum baca sih, tapi judulnya udah asyik). Kadang.... cinta itu datangnya tidak tepat waktu. Untuk berjodoh kita butuh momen yang sempurna. 

Misal, kamu jatuh cinta sama orang yang sudah menikah (atau sama-sama sudah menikah). Artinya kalian bertemu dan jatuh cinta di saat yang tidak tepat. Hidup akan lebih mudah seandainya kalian bertemu sebelum ada yang menikah (ini kan kayak film In The Mood For Love bangeeet!). Saya jadi keinget gosip salah satu artis: Tora Sudiro yang menceraikan istri pertamanya untuk menikahi Mieke Amalia. Ketika diwawancara mereka bilangnya: "Kami jatuh cinta di saat yang memang tidak tepat...". Kedengarannya egois ya, namun ya manusiawi. 

Contoh lain: misalkan, kamu ditaksir orang tapi kamu nggak mau. Eh,, gilirannya orangnya udah nggak cinta lagi, kamu baru mau. Nah ini juga sering kejadian!

#5
PERNIKAHAN ITU BAK MAIN JUDI


Bagaimanapun juga namanya masa depan ya kayak main judi. Because we never know. Dan salah satu hal tidak bisa dikendalikan adalah sifat dan perasaan manusia. Kita boleh sudah merencanakan dan memikirkan baik-baik tentang orang yang kita nikahi, tapi kita tidak pernah benar-benar bisa mengendalikan dia seperti apa yang kita mau. Demikian juga sebaliknya (anyway saya belum nikah kok sok bijak kalik ngomong begini). 

Saya berkaca pada gosip salah satu artis wanita ibu kota yang sudah dua kali gagal menikah (sebut saja R). Pernikahan pertamanya karena pacaran, MBA, namun kemudian gagal. Ini seperti menjadi validasi bahwa pacaran itu tidak menjamin kita cocok atau tidak dengan pasangan. Tapi pernikahan keduanya karena taaruf, gagal juga. Jadi ini juga membuktikan bahwa bah pacaran bah taaruf tidak menjamin pernikahan bisa langgeng dan bertahan lama.

Dan kita juga nggak bisa mengendalikan perasaan dan sifat orang ke depannya seperti apa. Terkadang perasaan bisa hilang gitu aja.... Ini menyakitkan, tapi ini ya manusiawi juga. Bahkan, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa rasa cinta cuma bertahan maksimal 3 tahun, selebih itu dibutuhkan komitmen sama-sama kuat untuk membuat cinta itu jadi attachment. I've been in a relationship with my ex for 7 years, dan saya pikir saya sudah cukup mengenal dia selama pacaran selama itu,  but in the end I just realized that I don't even know him at all. So... feelings change, people change. (Jadi curhat. Kalo mantan baca ya gpp lah).

Jadi, jodoh itu bisa juga sifatnya temporary.. 




....
So yang namanya jodoh itu bagi saya seperti kepingan-kepingan yang jatuh dari langit, dan entah bagaimana kepingan-kepingan itu harus bisa jatuh pada tempatnya dengan tepat. Ini probabilitasnya rendah banget lho Sebagian orang bisa merasakan itu, mungkin sebagian orang tidak. Mungkin jodoh itu juga tidak ada, mungkin juga ada. Entahlah. Bagi anda jomblo-jomblo di hari Valentine ini, bersabarlah karena kenyataannya cari jodoh itu emang ga mudah. *lalu baper di pojokan*

1/03/2017

Bagaimana Saya Memandang Hijab

INTERMEZZO
(Sekilas Mengenai Pengalaman Saya Mau Berhijab)

(Bisa dilewati karena toh ini nggak penting-penting banget)

Sepuluh tahun lalu, saya rasa trend berjilbab tidak semasif sekarang. Contoh kecilnya bisa dilihat dari pengamatan saya bahwa pada 10 tahun lalu, teman-teman saya banyak yang tidak mengenakan jilbab. Tapi sekarang, hampir semuanya kini telah berjilbab (alhamdulillah).

Pengalaman terdekat saya mengenakan hijab terjadi sepuluh tahun lalu di kampus, saat menjadi mahasiswa baru. Namanya masih maba, gampang dipengaruhi. Jadi ketika ada senior saya dari lingkar dakwah jurusan menyuruh mahasiswa baru perempuan mengenakan jilbab selama bulan Ramadhan -  saya menuruti. Apalagi saya kuliah di kampus dimana 75% mahasiswanya adalah laki-laki, jadi saya rasa saran untuk "menutupi aurat" saat itu sangat masuk akal. Maka, berjilbablah saya...

Ternyata, mengenakan jilbab itu menimbulkan kehebohan di teman-teman saya di luar satu jurusan yang sebelumnya mengenal saya tidak berjilbab. Banyak yang memberikan selamat kepada saya dan mendoakan "keistiqomahan" saya. Bahkan termasuk dosen kalkulus saya (yang entah kenapa hapal sama saya gara-gara saya sering banget disuruh maju di kelas) yang memberikan ucapan selamat kepada saya di tengah kuliah. Saya cuma bisa bengong, karena emang niat jilbaban waktu itu cuma karena disuruh senior.

Belakangan, saya sadar bahwa "penganjuran (pemaksaan) berhijab" ini mungkin strategi efektif supaya cewek-cewek jadi sungkan melepas jilbab setelah bulan Ramadhan, sehingga pada akhirnya memutuskan untuk berjilbab seterusnya. Itulah yang kemudian membuat saya galau setelah "kewajiban" itu kelar sehabis lebaran. Apa saya akan tetap berjilbab atau tidak. Saya kemudian membaca surat An-Nur (31) dimana tafsirannya cukup jelas kalau ditafsirkan literal:
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,......." (Q.S. An-Nur : 31)
Lalu saya pun jadi gemar mematut-matutkan diri di depan cermin, merasa bahwa saya cukup cantik mengenakan jilbab (waktu itu sebutan umum masih jilbab sih bukan hijab). Saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya memang lebih oke berjilbab.... lalu saya sampaikan ini kepada ibu saya dan kedua kakak laki-laki saya. Dasar keluarga liberal, otomatis niatan mulia menutup aurat itu ditentang oleh ibu dan kakak saya. Sampai pakai ajang adu debat dan argumentasi segala.

Bagi sebagian besar Anda, mungkin pendapat keluarga saya ini nggak masuk akal - karena toh perintah berjilbab ini sejujurnya cukup jelas di Al-Quran. Ya, jika dimaknai secara literal dan saklek. Namun toh persoalan jilbab sendiri ini multitafsir (saya nggak mau bahas di sini, bisa dicari sendiri ya). Almarhum kakak laki-laki saya yang paling menentang. Saya nggak ingat persis kata-katanya saat mendakwahi saya dengan berapi-api kala itu - yang bisa saya tangkap sekarang adalah ia menyuruh saya untuk "berpikir", bukan asal ada perintah lalu jalan, karena keistimewaan tertinggi manusia adalah "akal", dan sepantasnya punya otak itu digunakan untuk berpikir.. Intinya kitab itu jangan dimaknai mentah-mentah tanpa proses pemikiran. Kalaupun saya berjilbab, itu harus melalui kemauan dan niat dari dalam hati saya, bukan sekedar "ada senior yang nyuruh di kampus". Dan ya kalau bisa diakui saat ini adalah, keinginan saya berjilbab saat itu adalah karena malu. Udah diselametin orang-orang (termasuk dosen kalkulus), eh masa habis gitu ga pakai jilbab.

Maka, setelah lebaran, saya kembali ke kampus dengan rambut berkibar-kibar.

(dan sampai sekarang saya masih tidak berniat mengenakan hijab)

HIJAB ADALAH SIMBOL OPRESI PEREMPUAN

Di tulisan random ini saya nggak akan membahas pandangan mainstream islami terhadap jilbab (bahwa itu adalah kewajiban, bahwa itu dilakukan untuk melindungi perempuan, dll). karena saya yakin Anda sudah cukup sering mendengarnya.

Hijab paling ekstrim: burqa.
Saya pikir segala pemikiran saya tentang agama (Islam khususnya, karena saya dibesarkan melalui agama ini) berawal dari betapa susahnya jadi perempuan di agama islam. Sebagai gambaran, berikut ini adalah salah satu hadist paling menyulut emosi saya:

, إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ 

 “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)

Bagi saya pribadi, hadist di atas adalah salah sekian dari ajaran-ajaran Islam yang menurut saya tidak adil terhadap perempuan. Patriarki adalah suatu masalah, dan perkembangan ajaran Islam tidak bisa tidak lepas dari nilai patriarki - karena budaya saat pertama Islam muncul memang berada di masyarakat yang masih sangat patriakal. Islam, dan kebanyakan agama lainnya, memang menempatkan laki-laki sebagai subyek, dan perempuan sebagai obyek. Laki-laki adalah imam, perempuan nurut aja. Manusia pertama adalah laki-laki (Adam), dan istrinya Hawa adalah perempuan yang diciptakan dari bagian tubuh laki-laki. Isi surga adalah tentang kenikmatan pria, dan neraka digambarkan lebih banyak perempuannya daripada laki-laki dalam salah satu hadist. Bahkan deskripsi Tuhan sendiri lebih lekat dengan nilai-nilai maskulin dibandingkan feminim. 

Setiap manusia memiliki libido seksual, namun mitos yang berkembang adalah bahwa laki-laki memiliki libido lebih tinggi daripada perempuan, dan laki-laki - selama beratus-ratus tahun - terbiasa untuk bersikap wajar akan libido seksualnya. Maka perempuan yang dalam sistem patriakal tidak lebih dipandang sebagai objek, adalah godaan tertinggi pria. Kekhilafan laki-laki seringkali dianggap disebabkan perempuan. Maka : "kurungilah" perempuan dengan hijab dan kain menutupi aurat tubuhnya, supaya pria tidak terangsang. Alih-alih mengajarkan laki-laki untuk menjaga pikiran dan nafsunya, perempuanlah yang harus menjaga diri. 

Maka saya tiba pada kesimpulan pribadi bahwa bagi saya JILBAB adalah simbol opresi terhadap perempuan.

*Perlu digarisbawahi: saya tidak menyebut Islam sebagai agama yang paling diskriminatif terhadap perempuan. Saya rasa budaya patriakal itu merupakan budaya paling umum di masyarakat dunia manapun. 

HIJAB ADALAH PRODUK KEBUDAYAAN

Saya tahu ini masih sangat debatable. Sebagian besar memandang hijab sebagai sebuah kewajiban bagi perempuan (sesuai ayat Al-Quran An-Nur: 31 seperti yang tercantum sebelumnya), namun bagi saya pribadi hijab adalah produk kebudayaan. Dibesarkan oleh seorang Ibu yang berprofesi sebagai dosen arsitek, dan hobi menjelaskan kenapa arsitektur tiap daerah itu berbeda (karena semuanya tergantung iklim dan budaya yang ada) membuat saya lambat laun menilai bahwa hijab juga merupakan produk kebudayaan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di Timur Tengah.

Bayangin donk, Timur Tengah itu punya cuaca yang terbilang ekstrim: siang panas terik, malam dingin banget, dan berdebu karena wilayahnya yang berupa gurun padang pasir. Hijab, merupakan pakaian yang sesuai dikenakan di sana: melindungi tubuh. Mungkin karena itulah bisa kita perhatikan bahwa orang-orang Arab prianya juga punya pakaian adat khas.

Lelucon: katanya perempuan nggak boleh pakai celana karena itu menyerupai laki-laki. Noh, cowok Arab pakai daster! Jadi, definisi "menyerupai" itu kontekstual. Maka mengartikan hadist atau ayat harus kontekstual, jangan asal telan. Kalau menurut saya sih....
Sementara Indonesia punya cuaca dan situasi budaya yang sangat berbeda dengan Arab. Indonesia berada di khatulistiwa, panas, kelembabannya tinggi yang menyebabkan "sumuk" dan "gerah". Memakai pakaian model jilbab lebar gombrong-gombrong (apalagi sekarang model baju syar'i) sangat tidak cocok dikenakan di sini. Kecuali situ kaya, tinggal di ruangan berAC terus-terusan - jilbaban panjang pun nggak bakal sumuk! Pakaian tradisional Indonesia, menunjukkan cara leluhur kita beradaptasi dengan lingkungan di Indonesia.  

Sebuah foto jadul menunjukkan perempuan Bali dengan pakaian tradisionalnya. Jadi, sebelumnya payudara bukanlah sesuatu yang "vulgar". But anyway, kalau orang ngarep cewek Indonesia pakai baju model begini lagi mah saya ogah. 

HIJAB ADALAH PEMBEBASAN

Wait, what?
Nggak salah baca kan?

Setelah saya bilang sebelumnya bahwa Hijab adalah simbol opresi perempuan, maka selanjutnya dengan kontradiktif saya bilang bahwa hijab adalah pembebasan. Saya tahu ini aneh. 

Mari bersikap pragmatis.

Saya tahu pemerkosaan dan pelecehan kepada perempuan TIDAK tergantung dari pakaian perempuannya. Mau perempuan mengenakan pakaian mini, mau perempuan mengenakan pakaian jilbab tertutup, kalo lakiknya mesum dia akan memandang perempuan dengan mesum. Bahkan, saya sering dengar cerita bahwa ada laki-laki yang fetishnya adalah perempuan jilbab. (Yes, you live in a very very strange world...).

Marshanda, pas masih berjilbab.
Saya tahu patriakal tidak adil. Saya tahu menyalahkan perempuan korban pemerkosaan tidak adil. Saya tahu menyalahkan pakaian perempuan yang memancing birahi laki-laki adalah tidak adil. Hidup memang tidak adil, tapi sebaiknya kita sebagai perempuan cari aman saja. Bagi sebagian perempuan, hijab adalah sebuah solusi dari mata nakal pria-pria genit. Beberapa perempuan mengaku merasa aman dengan mengenakan jilbabnya yang menutupi aurat. Di dalam jilbabnya, perempuan menemukan kenyamanan. Pembebasan.

.....
Saya sendiri dalam pemikiran pribadi saat ini masih tetap berpikir bahwa jilbab adalah suatu bentuk opresi terhadap kebebasan perempuan. Saya juga tidak merasa bahwa rambut adalah bagian tubuh perempuan yang merangsang laki-laki, sehingga saya tidak merasa harus menutupinya. Namun, saya percaya bahwa perempuan (dan juga laki-laki) harus berpakaian dengan sopan dan pantas sesuai dengan norma kesopanan budaya masing-masing. Saya tetap menghormati perempuan yang mengenakan hijab sebagai keputusan pribadinya, sebagaimana saya ingin orang menghargai keputusan saya untuk tidak berhijab.
Berhijab atau tidak adalah hak perempuan. Memaksa perempuan mengenakan jilbab sama buruknya dengan memaksa perempuan melepaskan jilbabnya.
PS: Buat yang mau mendakwahi saya untuk berhijab....

Okelah saya tidak berhijab, tapi saya juga tidak mengenakan baju-baju sexy. Pertama, karena berpakaian sexy itu bukan ekspresi diri saya. Kedua, saya tidak ingin menarik perhatian lelaki-lelaki yang nggak-nggak. Ketiga, karena fakta saya nggak sexy... hahaha...