Memaknai Kisah Nabi-Nabi (Yang Bisa Jadi Omong Kosong)

Apakah Anda pernah mendengar mitos dan legenda lokal yang menyimpan berbagai kisah mistis, menakjubkan nan menarik? Sebagai contoh Malin Kundang, dimana kedurhakaan sang anak lelaki membuat ibunya mengutuknya menjadi batu. Atau mungkin cerita Jaka Tarub, dimana Jaka Tarub yang pervert mencuri selendang bidadari dan mengawini salah satunya. Atau contoh lain legenda Tangkuban Perahu yang melibatkan kisah cinta yang nggak wajar antara sang anak laki-laki dan ibunya. Atau contoh cerita lokal lainnya yang mengandung hal-hal ajaib seperti raksasa, keris sakti, hewan yang bisa berbicara, naga, dll. Jika Anda pernah mendengar itu semua, apakah Anda percaya bahwa cerita-cerita tersebut adalah benar? Apakah di suatu masa lampau cerita itu benar terjadi? Saya yakin jawabannya tidak, karena ya ceritanya memang tidak masuk akal. Tidak ada naga. Tidak ada raksasa. Tidak ada kesaktian mandraguna Bandung Bondowoso yang membangun candi sewu dengan bantuan makhluk halus. Kisah-kisah ajaib itu (sayangnya) rekaan belaka.


Jika Anda bisa menganggap bahwa cerita-cerita tersebut tidak masuk akal, lantas apakah Anda termasuk kaum religius yang mempercayai cerita-cerita mukjizat nabi-nabi Tuhan? Nabi Adam sebagai manusia pertama ciptaan Tuhan, Nabi Nuh yang membangun bahtera besar untuk mengangkut hewan-hewan berpasang-pasangan saat Tuhan "memusnahkan" bumi, Nabi Musa yang membelah lautan, Nabi Isa yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit, hingga Nabi Muhammad yang menurut beberapa hadist kabarnya membelah bulan. Apakah Anda mengimani kisah-kisah nabi dengan yang mukjikzatnya begitu menakjubkan? Jika iya, saya ingin bertanya...

Mengapa Anda bisa mempercayai itu namun tidak percaya dengan kisah lokal lainnya yang sebenarnya sama ajaibnya?

Keduanya - cerita nabi dan mitos dan legenda lokal - sama-sama tidak ada bukti, hanya berdasarkan cerita turun temurun. Untungnya, cerita Nabi itu tertuliskan pada kitab suci agama samawi, sehingga Anda kemudian mempercayai itu sebagai bagian dari realitas historis. Tapi pernahkan Anda bertanya kenapa keajaiban hanya terjadi daerah tertentu (Israel, Arab, Timur Tengah, dll)? Pernahkah Anda bertanya juga kenapa tidak ada Nabi turun dengan mukjizatnya yang super menakjubkan itu di jaman sekarang? Apakah Tuhan tahu karena di jaman sekarang orang yang mengaku memiliki mukjizat super seperti itu akan disangka sebagai ahli sulap dan ahli photoshop atau ahli efek kamera? (kalau abad pertengahan pasti disangka tukang sihir). Apakah Tuhan tahu karena jaman sekarang quote "No pict hoax" begitu populer membuat banyak orang jadi skeptis dengan cerita-cerita nggak masuk akal seperti itu?



...............

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang menghantui saya selama ini, membuat saya kemudian mempertanyakan kebenaran secara faktual cerita-cerita itu. Well, saya sering berkata sekali kamu skeptis, mustahil untuk kembali ke tidak skeptis. Sains sudah sedemikian majunya sehingga secara revolusioner telah mempengaruhi pemikiran manusia untuk menuntut pembuktian, lebih kritis, termasuk dalam persoalan agama yang sebelumnya hanya mendasarkan keimanan pada dogma yang ditelan bulat-bulat.

Ngomong-ngomong, saya mohon maaf jika pemikiran ini menyinggung beberapa pihak. Namun daripada cepat-cepat tersinggung, perlu dipahami dulu bahwa saya tetap merasa bahwa kisah-kisah nabi ini walaupun mungkin omong kosong bak legenda dan mitos lainnya, namun masih bisa dipahami dan disikapi dengan lebih bijaksana, daripada dengan sombongnya melemparkannya ke tempat sampah.

Menyikapi Kisah - Kisah Nabi Yang Ajaib di Masa Kini

Jadi begini, pernah saya utarakan sebelumnya pada artikel "Kenapa Ajaran Agama Saat Ini Menjadi Bahan Olokan", bahwa ajaran agama saat ini banyak mengalami guncangan karena materi ajarannya yang terbatas pada dogma yang tidak bisa dibuktikan. Saya pikir, selama ajaran agama seperti ini - sebatas dogma buta, memaksakan kebenaran dan cocoklogi, fokus pada sekedar tradisi yang tidak progresif, bukan tidak mungkin agama akan kehilangan banyak pengikutnya. Namun saya yakin bahwa agama tidak lekang oleh jaman karena agama mampu menjawab pertanyaan besar manusia mengenai hakikat kehidupan. Ini adalah sebuah filosofis agung yang selalu menjadi pertanyaan umat manusia dari beribu tahun lalu hingga sekarang, dan merupakan sebuah misteri yang indah (dan misteri yang indah adalah misteri yang tidak terjawab!).

Bagi saya, daripada memaknai agama dengan fokus pada perangkatnya yang dimaknai secara harfiah, saya rasa lebih indah jika memaknainya secara lebih simbolis, melalui makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Kaum skeptis/atheis/agnostik arogan kerap menyepelekan agama dan kemudian mengolok-ngoloknya, namun bagi saya mustahil agama bisa bertahan beribu-ribu tahun jika tidak mempunyai nilai luhur yang indah dan bermanfaat. Saya beri sedikit contoh (yang kebetulan contohnya agama Islam, karena saya dibesarkan dengan agama ini): daripada fokus pada gerakan sholat harus 100% begini harus 100% begitu, lebih baik dilihat bahwa sholat secara simbolik merupakan jembatan bagi manusia untuk mendekatkan diri pada ilahi-Nya. Tidak semua manusia bisa menggali sisi spiritualnya, manusia butuh ritual untuk membiasakan itu, dan sholat adalah ritual tersebut bagi umat Islam. Selain itu, sujud merupakan sebuah simbol kepasrahan dan kerendahan diri, dan bagaimana tidak peduli kamu raja atau kamu miliuner, kalau muslim semuanya harus sujud dalam gerakan yang sama, sama rata dengan tanah, melambangkan betapa ajaran yang dibawa Muhammad ini memang terasa kental semangat egalitariannya.

Nah, hal yang sama bisa diterapkan dalam mempelajari kisah-kisah nabi. Daripada fokus pada jalan cerita yang nggak masuk akal, sebaiknya kita fokus pada nilai moral yang ada. Misalnya, daripada fokus kepada kisah ajaibnya nabi Musa membelah lautan dan mengubah tongkat menjadi ular, tapi kita fokus kepada bagaimana Tuhan tidak meninggalkan mereka yang sengsara (konteks cerita ini saya rasa akan lebih bermakna bagi bangsa Yahudi, karena kisah ini punya nilai historik kepada mereka secara langsung), dan bagaimana sebagai seorang Penguasa (Firaun) kita nggak boleh sewenang-wenang. Contoh lain, daripada fokus pada cerita nabi Adam dan Hawa digoda ular di surga dan turun ke bumi, tapi sebaiknya fokus kepada nilai kisah cinta mereka yang romantis - bagaimana mereka bertemu kembali di bumi (ini romantis lho!). Nilai moral ini tentu saja tidak hanya berlaku bagi kisah-kisah nabi belaka, namun juga pada kisah mitos dan legenda lokal lainnya. Kisah Malin Kundang, misalnya, mengajarkan bahwa jangan durhaka kepada ibu yang susah payah mengandung dan membesarkan kita.

Pemaknaan kisah-kisah ini bisa juga disesuaikan dengan konteks KeTuhanan, karena banyak contoh kisah-kisah nabi yang cukup saya familiar memiliki nilai cerita tentang aspek monoteisme, dan bisa menjadi penguat keimanan bagi Anda yang religius. Dengan pemaknaan yang terfokus pada kesan dan pesan yang tersirat, maka kita lebih mampu mengambil nilai manfaatnya - terlepas dari apakah cerita itu benar secara fakta atau sekedar omong kosong. Dengan melalui jalan ini pulalah, saya rasa agama dan iman terhadap Rasul-nya lebih bisa dihargai dan mampu bertahan. Karena kita tidak bisa mencegah manusia dengan teknologinya untuk berhenti berkembang, dan pengetahuannya untuk berhenti bertanya.

Komentar

  1. Menurut saya, kurang fair apabila membandingkan kisah nabi dengan kisah lokal yang ada di Indonesia. Hanya kisah nabi yang tercatat di manuskrip maha sempurna yaitu Al-Qur'an, sedangkan kisah lokal ada hanya karena cerita turun temurun yang tentunya originalitasnya perlu dipertanyakan. Tapi tidak menutup kemungkinan cerita lokal memang benar adanya, kalaupun memang tidak benar tidak perlu diambil pusing cukup kita mengambil makna yang terkandung di dalamnya. Mengenai "keajaiban" hanya turun di timur tengah dan sekitarnya saya kurang sependapat, kalau kita korek lagi cerita nabi nuh yang menggunakan kayu untuk membangun bahtera maha besar, ternyata setelah diteliti kayu yang digunakan adalah kayu jati, yang mana hanya dapat tumbuh subur di pulau jawa. Dan juga kemungkinan masih banyak lagi kemungkinan "keajaiban" yang ada tidak terjadi di jazirah arab

    BalasHapus
  2. Tulisan ini inspiratif dan cocok untuk jadi bahan renungan. Kita harus open minded dalam menanganggapi paparan mbak niken ini. Bukan membenturkannya lagi dengan dogma (Al Quran manuskrip yang maha sempurna, itu dogma yang harus diyakini muslimin meski tak ada bukti ilmiahnya). Anyway, bagus untuk bahan diskusi. Seperti yang dikatakan Pi Patel dalam film life of pi, keraguan dalam beragama (beriman) menandakan iman mu hidup dan tidak stastis. Good!

    BalasHapus
  3. saya sesekeptik anda, menurut saya kisah-kisah besar para nabi persis spt kisah bandung bondowoso dll spt yang anda sampaikan.Pada masa itu manusia dalam situasi psikologis ysng "sangat patuh" kepada yg dikultuskan. Scara temurun kisah -kisah sakral tersebut samapi ke generasi skarang dan dipahami sbagai fakta sejarah .Sebab Agama mengajarkan doktrin bukan analisis logika .Sebagai contoh lain misal tinggi badan nabi Adam yg konon mancapai puluhan meter....?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer