Tuhan Yang Sempurna dan Manusia Yang Tidak Sempurna

Sering dengar pendapat ini nggak, biasanya dikatakan menjelang akhir pidato atau ceramah: "Jika ada yang sempurna, datangnya dari Allah. Jika ada kesalahan, datangnya dari saya sebagai manusia,". Kalimat-kalimat lain kata-katanya bisa berbeda tapi maknanya kurang lebih serupa: "Hanya Allah yang sempurna, manusia itu tidak sempurna," Intinya, kalimat-kalimat seperti itu bisa ditarik kesimpulan: Allah itu sempurna dan manusia itu tidak sempurna.

Lantas, bolehkah saya bertanya-tanya: Kenapa Allah yang sempurna menciptakan manusia tidak sempurna? Bukannya kalau Allah itu sempurna ciptaannya harusnya sempurna? Kenapa ciptaannya nggak sempurna?

Note:
Saya tidak bicara dalam konteks manusia adalah makhluk paling sempurna dibandingkan makhluk Tuhan lainnya  karena punya akal dan hawa nafsu  - sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim. (Sebenarnya dikatakan kita satu-satunya yang punya akal juga nggak tepat, karena binatang pun punya akal - walaupun kemampuan kognitif mereka tidak sehebat manusia. Lebih tepat dikatakan manusia unggul daripada hewan karena kita adalah bagian semesta yang "menyadari" diri kita sendiri dan semesta itu sendiri. Selain itu akal dan nafsu - bisa jadi anugerah, tapi bisa juga merupakan kutukan). "Sempurna" yang saya bicaraka di sini adalah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dan kebatilan. Hmm, sebagaimana yang biasa kita gambarkan pada sosok nabi?

Jawabannya, menurut pemikiran saya, bisa ada tiga pilihan jawaban.
1. Allah itu tidak sempurna.
2. Allah itu sempurna, dan ciptaannya juga sempurna.
3, Allah itu sempurna, dan sengaja menciptakan manusia yang tidak sempurna.
Ketiga pilihan jawaban di atas tentu menimbulkan konsekuensi-konsekuensi. Saya coba menuliskan isi kepala saya tentang ketiga jawaban yang memungkinkan itu... Dan supaya tidak menimbulkan diskusi yang mengarah ke saya sengaja 'menjelek-jelekkan' satu agama tertentu, saya ganti kata Allah dengan Tuhan. Dan definisi Tuhan di sini rasa-rasanya lebih masuk akal jika merujuk ke Tuhan samawi.

1. Tuhan itu Tidak Sempurna

Kenapa Tuhan menciptakan manusia tidak sempurna? Karena Tuhan juga tidak sempurna. Sesungguhnya argumentasi ini bisa langsung mengakhiri polemik ini. Namun menganggap Tuhan tidak sempurna terdengar sangat..... janggal. Kalau tidak sempurna, kenapa disebut Tuhan? Sebuah tesis "tidak sempurna" harusnya melahirkan antitesis "sempurna",  dan yang disebut "sempurna" itu tentunya adalah milik Tuhan. Selain itu, gagasan Tuhan tidak sempurna mengkhianati semua harapan kita akan sosok lain, beserta gambaran surgawi yang melengkapinya.

2. Tuhan itu sempurna, dan manusia juga sempurna

Ini mungkin terdengar penjelasan yang sama ganjilnya. Bahwa manusia itu tidak sempurna, sebenarnya adalah pernyataan yang salah.

Oke, manusia itu sesungguhnya sudah sempurna. Karena Tuhan tidak boleh tidak sempurna, maka ciptaannya haruslah sempurna. Jadi definisi kita akan "tidak sempurna" itu merupakan pernyataan salah karena disandarkan pada standar yang kita buat-buat sendiri. Kita dengan segala kesalahan kita adalah bagian dari sempurna. Manusia yang pelupa, manusia yang salah ucap, manusia yang bodoh dan manusia yang pintar, manusia yang berkacamata dan manusia dengan mata yang sehat - semuanya sebenarnya sempurna. Ini ibarat turunan dari konsep 'yin dan yang'. Segala keburukan yang melengkapi kebaikan itu adalah perpaduan yang menjadikan manusia itu sempurna. Standar kita yang menciptakan manusia sempurna dan manusia yang tidak sempurna - lah yang patut direvisi, karena standar itu standar yang kita buat-buat sendiri sebagai manusia. Hmm... masih bingung ya? Saya juga. Haha.

Tentu, ini ada konsekuensi-konsekuensi logis lainnya. Masa iya manusia yang berbuat kejahatan adalah manusia yang sempurna? Masa iya manusia dengan kesalahan berpikir adalah manusia sempurna? Masa iya manusia yang mengabaikan nurani adalah manusia yang sempurna? Masa iya manusia yang khilaf dan melakukan hal-hal buruk adalah manusia sempurna? Tentu, kesempurnaan semacam ini adalah kesempurnaan yang menyakitkan. Konsep kebaikan dan kejahatan manusia mungkin ibarat yin dan yang, sesuatu yang saling melengkapi dan tak terpisahkan, yang "sempurna" jika merujuk kepada lingkup sosial umat manusia secara keseluruhan, namun jika dinilai secara individual - jelas cukup susah menerima kesimpulan "setiap manusia itu sempurna".

Agak bingung ya? saya jelaskan dengan analogi: Suatu kelompok A adalah manusia yang baik, kelompok B adalah manusia yang jahat. Pertentangan antara kelompok A dan kelompok B tidak bisa dihindarkan, namun adanya pertentangan ini melahirkan banyak hal: kemajuan, inovasi teknologi, perkembangan pemikiran dan kecerdasan, perkembangan ideologi, dll. Tentu ada dampak negatif yang harus dibayar: kerusakan lingkungan, kematian, rasa sakit hati, dll. Nah - kelompok A dan kelompok B ini menciptakan dunia yang sempurna karena tidak stagnan. Umat manusia, ditinjau secara keseluruhan, boleh dibilang sempurna. Namun apakah kelompok B, yang jahat entah karena alasan apapun - secara individu bisa dinilai bahwa mereka manusia sempurna?

3. Tuhan itu sempurna, dan sengaja menciptakan manusia yang tidak sempurna.

Oke, lanjut ke gagasan berikutnya. Jadi Tuhan itu sempurna, dan Ia menciptakan manusia tidak sempurna karena kesengajaan. Bagi kaum anti-skeptik, optimis dan religius tentu akan berpendapat bahwa ini merupakan ketentuan Tuhan dan sebagai bahan ujian. Sebenarnya, jika kesengajaan itu ada pada hal remeh-remeh seperti: manusia bisa lupa, manusia bisa salah omong, manusia bisa sedikit marah - maka kesengajaan itu bukanlah masalah. Namun kalau dalam contoh kasus ekstrim, seperti manusia yang lahir di lingkungan perampok sehingga ia jadi perampok, manusia dengan kelainan otak hingga cenderung psycho, apakah memang itu bagian kesengajaan Tuhan? Jika memang iya, bolehkan kita menganggap bahwa Tuhan tidak adil?

Gagasan "ketidaksempurnaan manusia sebagai ujian manusia" sebenarnya berhasil jika kita memang melihat dunia dengan optimis dan terdogma ajaran agama. Namun salah satu alasan banyak orang memalingkan dari ajaran agama (sejauh yang saya tahu), karena gambaran Tuhan yang sengaja menciptakan manusia tidak sempurna (dengan segala keburukan, kejahatan, kehidupan yang tidak adil), adalah terdengar sangat semena-mena - karena Ia yang sengaja menciptakan manusia tidak sempurna, ia pula-lah yang menciptakan neraka! Dalam kasus kejahatan, memang Tuhan samawi "kurang sempurna" bagi saya untuk menjelaskan perannya. (Pernah dengan teori Epicurus? - saya juga baru-baru ini baca-baca dikit soal itu). Tuhan yang personal, sudah barang tentu kurang mampu menjelaskan ini (bagi saya pribadi lho!).





....
Anwyay, ini tampaknya tulisan paling tidak jelas yang saya bikin di blog ini. Karena segala nya masih absurd sehingga saya belum bisa menerangkan gagasannya dengan lebih jelas dan komprehensif. Malah, saya juga ga bisa menjawab menurut saya pribadi manakah dari ketiga argumen di atas yang sesuai dengan pikiran saya. Hahaha. Mungkin justru orang ateis yang bisa menjawab pertanyaan di atas dengan lugas: karena Tuhan itu tidak ada!

Komentar

  1. Segala sesuatu yang ada di dunia ini sesungguhnya bersifat relatif, dan jika ada kata-kata manusia adalah mahluk paling sempurna sesungguhnya merupakan idiom yang dengan sengaja dibuat oleh Tuhan untuk membandingkan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lain dimana manusia mempunyai akal, kesadaran dan berkehendak bebas. Dan bahkan lebih tidak adil lagi jika Tuhan menciptakan semua manusia sama bahkan semua mahluknya juga sama. Kemudian pertanyaannya dimana letak kesempurnaan penciptaan itu. Kesempuranaan justru ada ketika sang Pencipta menciptakan masterpiece berbeda ditiap tiap karyanya. Idiom perampok ada karena ada orang baik, kalau semua orang adalah perampok kita pasti tidak akan menyebut perampok sebagai perampok, begitu juga dengan psycho dan juga hal yang lainnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer