Bagaimana Saya Memandang Hijab

INTERMEZZO
(Sekilas Mengenai Pengalaman Saya Mau Berhijab)

(Bisa dilewati karena toh ini nggak penting-penting banget)

Sepuluh tahun lalu, saya rasa trend berjilbab tidak semasif sekarang. Contoh kecilnya bisa dilihat dari pengamatan saya bahwa pada 10 tahun lalu, teman-teman saya banyak yang tidak mengenakan jilbab. Tapi sekarang, hampir semuanya kini telah berjilbab (alhamdulillah).

Pengalaman terdekat saya mengenakan hijab terjadi sepuluh tahun lalu di kampus, saat menjadi mahasiswa baru. Namanya masih maba, gampang dipengaruhi. Jadi ketika ada senior saya dari lingkar dakwah jurusan menyuruh mahasiswa baru perempuan mengenakan jilbab selama bulan Ramadhan -  saya menuruti. Apalagi saya kuliah di kampus dimana 75% mahasiswanya adalah laki-laki, jadi saya rasa saran untuk "menutupi aurat" saat itu sangat masuk akal. Maka, berjilbablah saya...

Ternyata, mengenakan jilbab itu menimbulkan kehebohan di teman-teman saya di luar satu jurusan yang sebelumnya mengenal saya tidak berjilbab. Banyak yang memberikan selamat kepada saya dan mendoakan "keistiqomahan" saya. Bahkan termasuk dosen kalkulus saya (yang entah kenapa hapal sama saya gara-gara saya sering banget disuruh maju di kelas) yang memberikan ucapan selamat kepada saya di tengah kuliah. Saya cuma bisa bengong, karena emang niat jilbaban waktu itu cuma karena disuruh senior.

Belakangan, saya sadar bahwa "penganjuran (pemaksaan) berhijab" ini mungkin strategi efektif supaya cewek-cewek jadi sungkan melepas jilbab setelah bulan Ramadhan, sehingga pada akhirnya memutuskan untuk berjilbab seterusnya. Itulah yang kemudian membuat saya galau setelah "kewajiban" itu kelar sehabis lebaran. Apa saya akan tetap berjilbab atau tidak. Saya kemudian membaca surat An-Nur (31) dimana tafsirannya cukup jelas kalau ditafsirkan literal:
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,......." (Q.S. An-Nur : 31)
Lalu saya pun jadi gemar mematut-matutkan diri di depan cermin, merasa bahwa saya cukup cantik mengenakan jilbab (waktu itu sebutan umum masih jilbab sih bukan hijab). Saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya memang lebih oke berjilbab.... lalu saya sampaikan ini kepada ibu saya dan kedua kakak laki-laki saya. Dasar keluarga liberal, otomatis niatan mulia menutup aurat itu ditentang oleh ibu dan kakak saya. Sampai pakai ajang adu debat dan argumentasi segala.

Bagi sebagian besar Anda, mungkin pendapat keluarga saya ini nggak masuk akal - karena toh perintah berjilbab ini sejujurnya cukup jelas di Al-Quran. Ya, jika dimaknai secara literal dan saklek. Namun toh persoalan jilbab sendiri ini multitafsir (saya nggak mau bahas di sini, bisa dicari sendiri ya). Almarhum kakak laki-laki saya yang paling menentang. Saya nggak ingat persis kata-katanya saat mendakwahi saya dengan berapi-api kala itu - yang bisa saya tangkap sekarang adalah ia menyuruh saya untuk "berpikir", bukan asal ada perintah lalu jalan, karena keistimewaan tertinggi manusia adalah "akal", dan sepantasnya punya otak itu digunakan untuk berpikir.. Intinya kitab itu jangan dimaknai mentah-mentah tanpa proses pemikiran. Kalaupun saya berjilbab, itu harus melalui kemauan dan niat dari dalam hati saya, bukan sekedar "ada senior yang nyuruh di kampus". Dan ya kalau bisa diakui saat ini adalah, keinginan saya berjilbab saat itu adalah karena malu. Udah diselametin orang-orang (termasuk dosen kalkulus), eh masa habis gitu ga pakai jilbab.

Maka, setelah lebaran, saya kembali ke kampus dengan rambut berkibar-kibar.

(dan sampai sekarang saya masih tidak berniat mengenakan hijab)

HIJAB ADALAH SIMBOL OPRESI PEREMPUAN

Di tulisan random ini saya nggak akan membahas pandangan mainstream islami terhadap jilbab (bahwa itu adalah kewajiban, bahwa itu dilakukan untuk melindungi perempuan, dll). karena saya yakin Anda sudah cukup sering mendengarnya.

Hijab paling ekstrim: burqa.
Saya pikir segala pemikiran saya tentang agama (Islam khususnya, karena saya dibesarkan melalui agama ini) berawal dari betapa susahnya jadi perempuan di agama islam. Sebagai gambaran, berikut ini adalah salah satu hadist paling menyulut emosi saya:

, إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ 

 “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)

Bagi saya pribadi, hadist di atas adalah salah sekian dari ajaran-ajaran Islam yang menurut saya tidak adil terhadap perempuan. Patriarki adalah suatu masalah, dan perkembangan ajaran Islam tidak bisa tidak lepas dari nilai patriarki - karena budaya saat pertama Islam muncul memang berada di masyarakat yang masih sangat patriakal. Islam, dan kebanyakan agama lainnya, memang menempatkan laki-laki sebagai subyek, dan perempuan sebagai obyek. Laki-laki adalah imam, perempuan nurut aja. Manusia pertama adalah laki-laki (Adam), dan istrinya Hawa adalah perempuan yang diciptakan dari bagian tubuh laki-laki. Isi surga adalah tentang kenikmatan pria, dan neraka digambarkan lebih banyak perempuannya daripada laki-laki dalam salah satu hadist. Bahkan deskripsi Tuhan sendiri lebih lekat dengan nilai-nilai maskulin dibandingkan feminim. 

Setiap manusia memiliki libido seksual, namun mitos yang berkembang adalah bahwa laki-laki memiliki libido lebih tinggi daripada perempuan, dan laki-laki - selama beratus-ratus tahun - terbiasa untuk bersikap wajar akan libido seksualnya. Maka perempuan yang dalam sistem patriakal tidak lebih dipandang sebagai objek, adalah godaan tertinggi pria. Kekhilafan laki-laki seringkali dianggap disebabkan perempuan. Maka : "kurungilah" perempuan dengan hijab dan kain menutupi aurat tubuhnya, supaya pria tidak terangsang. Alih-alih mengajarkan laki-laki untuk menjaga pikiran dan nafsunya, perempuanlah yang harus menjaga diri. 

Maka saya tiba pada kesimpulan pribadi bahwa bagi saya JILBAB adalah simbol opresi terhadap perempuan.

*Perlu digarisbawahi: saya tidak menyebut Islam sebagai agama yang paling diskriminatif terhadap perempuan. Saya rasa budaya patriakal itu merupakan budaya paling umum di masyarakat dunia manapun. 

HIJAB ADALAH PRODUK KEBUDAYAAN

Saya tahu ini masih sangat debatable. Sebagian besar memandang hijab sebagai sebuah kewajiban bagi perempuan (sesuai ayat Al-Quran An-Nur: 31 seperti yang tercantum sebelumnya), namun bagi saya pribadi hijab adalah produk kebudayaan. Dibesarkan oleh seorang Ibu yang berprofesi sebagai dosen arsitek, dan hobi menjelaskan kenapa arsitektur tiap daerah itu berbeda (karena semuanya tergantung iklim dan budaya yang ada) membuat saya lambat laun menilai bahwa hijab juga merupakan produk kebudayaan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di Timur Tengah.

Bayangin donk, Timur Tengah itu punya cuaca yang terbilang ekstrim: siang panas terik, malam dingin banget, dan berdebu karena wilayahnya yang berupa gurun padang pasir. Hijab, merupakan pakaian yang sesuai dikenakan di sana: melindungi tubuh. Mungkin karena itulah bisa kita perhatikan bahwa orang-orang Arab prianya juga punya pakaian adat khas.

Lelucon: katanya perempuan nggak boleh pakai celana karena itu menyerupai laki-laki. Noh, cowok Arab pakai daster! Jadi, definisi "menyerupai" itu kontekstual. Maka mengartikan hadist atau ayat harus kontekstual, jangan asal telan. Kalau menurut saya sih....
Sementara Indonesia punya cuaca dan situasi budaya yang sangat berbeda dengan Arab. Indonesia berada di khatulistiwa, panas, kelembabannya tinggi yang menyebabkan "sumuk" dan "gerah". Memakai pakaian model jilbab lebar gombrong-gombrong (apalagi sekarang model baju syar'i) sangat tidak cocok dikenakan di sini. Kecuali situ kaya, tinggal di ruangan berAC terus-terusan - jilbaban panjang pun nggak bakal sumuk! Pakaian tradisional Indonesia, menunjukkan cara leluhur kita beradaptasi dengan lingkungan di Indonesia.  

Sebuah foto jadul menunjukkan perempuan Bali dengan pakaian tradisionalnya. Jadi, sebelumnya payudara bukanlah sesuatu yang "vulgar". But anyway, kalau orang ngarep cewek Indonesia pakai baju model begini lagi mah saya ogah. 

HIJAB ADALAH PEMBEBASAN

Wait, what?
Nggak salah baca kan?

Setelah saya bilang sebelumnya bahwa Hijab adalah simbol opresi perempuan, maka selanjutnya dengan kontradiktif saya bilang bahwa hijab adalah pembebasan. Saya tahu ini aneh. 

Mari bersikap pragmatis.

Saya tahu pemerkosaan dan pelecehan kepada perempuan TIDAK tergantung dari pakaian perempuannya. Mau perempuan mengenakan pakaian mini, mau perempuan mengenakan pakaian jilbab tertutup, kalo lakiknya mesum dia akan memandang perempuan dengan mesum. Bahkan, saya sering dengar cerita bahwa ada laki-laki yang fetishnya adalah perempuan jilbab. (Yes, you live in a very very strange world...).

Marshanda, pas masih berjilbab.
Saya tahu patriakal tidak adil. Saya tahu menyalahkan perempuan korban pemerkosaan tidak adil. Saya tahu menyalahkan pakaian perempuan yang memancing birahi laki-laki adalah tidak adil. Hidup memang tidak adil, tapi sebaiknya kita sebagai perempuan cari aman saja. Bagi sebagian perempuan, hijab adalah sebuah solusi dari mata nakal pria-pria genit. Beberapa perempuan mengaku merasa aman dengan mengenakan jilbabnya yang menutupi aurat. Di dalam jilbabnya, perempuan menemukan kenyamanan. Pembebasan.

.....
Saya sendiri dalam pemikiran pribadi saat ini masih tetap berpikir bahwa jilbab adalah suatu bentuk opresi terhadap kebebasan perempuan. Saya juga tidak merasa bahwa rambut adalah bagian tubuh perempuan yang merangsang laki-laki, sehingga saya tidak merasa harus menutupinya. Namun, saya percaya bahwa perempuan (dan juga laki-laki) harus berpakaian dengan sopan dan pantas sesuai dengan norma kesopanan budaya masing-masing. Saya tetap menghormati perempuan yang mengenakan hijab sebagai keputusan pribadinya, sebagaimana saya ingin orang menghargai keputusan saya untuk tidak berhijab.
Berhijab atau tidak adalah hak perempuan. Memaksa perempuan mengenakan jilbab sama buruknya dengan memaksa perempuan melepaskan jilbabnya.
PS: Buat yang mau mendakwahi saya untuk berhijab....

Okelah saya tidak berhijab, tapi saya juga tidak mengenakan baju-baju sexy. Pertama, karena berpakaian sexy itu bukan ekspresi diri saya. Kedua, saya tidak ingin menarik perhatian lelaki-lelaki yang nggak-nggak. Ketiga, karena fakta saya nggak sexy... hahaha... 

Komentar

  1. jilbab menindas wanita. ungkapan ini juga sering saya dengar. tidak hanya dari orang di luar islam tapi juga orang islam sendiri seperti anda.
    tapi kalo boleh ikut rembug saran, sudut pandangnya bisa lebih dibuka lebih lebar. karena ajaran islam sendiri tidak berdiri sendiri.tapi merupakan satu kesatuan yang utuh.
    di satu tempat, anda merasa jilbab menindas. itu pendapat anda, ya silahkan saja. tapi harus adil juga disebutkan tentang bagaimana agama islam yang mulia ini memuliakan para wanita.
    https://konsultasisyariah.com/22876-keutamaan-anak-perempuan.html

    tentang bagaiman surga ada di telapak kaki seorang perempuan (ibu).
    tentang bagaimana seorang lelaki dikatakan paling baik ketika memuliakan perempuan mereka.
    bahwa lelaki akan mempertanggungjawabkan 4 perempuan (istri, saudari, putri dan ibu).
    dan masih banyak lagi kemuliaan lain.

    standar yang anda gunakan adalah standar anda sendiri. sedangkan standar batas kepantasan adalah dari Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wasallam. "seluruh bagian tubuh wanita adalah aurat kecuali ini dan ini" sambil menunjuk wajah dan pergelangan tangan beliau.

    suka tidak suka, percaya tidak percaya. wajib taat.
    tapi kalo anda memilih berpedapat lain, apa mau dikata. kewajiban menyampaikan sudah gugur.
    semoga hidayah Allah selalu bersama kita semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya rasa kita punya perspektif berbeda yang percuma juga untuk diadu argumentasikan. Hehe...

      Terimakasih mas untuk commentnya. Semoga jadi ada sudut pandang lain bagi tulisan ini :)

      Hapus
    2. Lebih kredibel mana pendapat seorang wanita yang beragama islam tentang pandangan bagaimana perlakuan islam terhadap wanita, dibandingkan pendapat seorang lelaki yang berada dalam islam tentang bagaimana perlakuan islam terhadap wanita ?


      Susah ngomong sama seseorang yang fanatis, karena nalar dan logika sudah dibutakan

      Hapus
  2. Dua kata untuk mbk niken, semoga lekas mendapatkan hidaya dan terbuka hatinya untuk menerima hijab.

    BalasHapus



  3. Yang saya fahami para ulama sepakat tentang kewajiban mengenakan hijab, yang berbeda adalah batasan dalam hijab. Walaupun saya bukan anggota dan penggemar HT ada tulisan yang mungkin bisa bahan penambah informasi di sini. Saya coba untuk sharing pendapat yang sumbernya dari web http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/01/jilbab-kewajiban-bukan-sekedar-budaya/


    Berbagai bukti menunjukkan bahwa jilbab bukan adat kebiasaan/budaya orang arab adalah pertama, asbabun nuzul Surat An Nur ayat 31. Diriwayatkan bahwa Asma’ binti Murtsid pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang, sehinggga kelihatan gelang-gelang kakinya, dada dan sanggul. Selanjutnya Asma, berkata “Alangkah buruknya pemandangan ini, maka turunlah ayat ini (surat AnNur[24];31) sampai auratinnisa‘ berkenaan dengan peristiwa tersebut yang memerintahkan kaum mu’minat menutup aurat (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin Abdillah)[6]
    Dari asbabun nuzul surat An Nur ayat 31 tersebut jelas sekali bahwa dikatakan gelang-gelang kaki, dada, sanggul perempuan arab saat itu terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa saat itu dia belum memakai jilbab. Jika rambut, dada dan kaki tidak dikatakan sebagai aurat tentu saja tidak perlu lagi perintah menutup aurat .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agama itu hanyalah kebudayaan lokal, itulah kesimpulan akhir dari perdebatan tentang agama.

      Hapus
  4. Setelah baca blog niken ini saya dapat banyak pelajaran, awalnya mau liat "pandangan niken" tentang film film karna kadang saya suka bingung dengan ending beberapa film, dan terimakasih atas reviewnya saya jd paham

    Namun kenapa setiap saya baca tulisan anda masalah islam atau hijab seperti nya anda tertekan terlahir sebagai muslim ya

    Oke fine, berjilbab harus berdasarkan niat dan tulus dari hati, bukan atas paksaan, tp cara anda memandangnya salah. Dan begitu kentara bahwa anda tidak suka jd wanita muslim.

    No offense, anda beragama islam tp menunjukan bahwa anda bukan (tidak suka) beragama islam, terlihat jelas dari artikel hijab & kisah nabi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika bersikap kritis disalah artikan menjadi "benci" atau "tidak suka", maka saya rasa kita tidak akan pernah bisa sepakat.

      Dan saya tidak tahu apakah Anda membaca tulisan saya sampai bawah? Karena selain bilang jilbab adalah "opresi" saya suka bilang bahwa jilbab adalah "pembebasan".

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer