Karena Uang Adalah Tujuan Hidup!


Saya kepikiran untuk menulis ini setelah beberapa hari lalu "diceramahi" seorang bapak-bapak supaya saya jadi orang maju dan sukses. Hmm.. tentu yang dimaksud adalah sukses menurut standar beliau dan kebanyakan orang. Kesuksesan yang diukur dari jabatan tinggi, seberapa banyak penghasilan yang kamu punya, atau seberapa besar perusahaanmu.

Kira-kira dalam salah satu motivational preaching-nya beliau berkata, "Lha kamu ga pengen apa jadi "penjahit" yang bisa dapat duit 20 juta rupiah per baju? Masa lulusan S1 jadi begini-begini aja.. Eman doonk..".

(By the way, beliau tahu pekerjaan saya seorang pedagang pakaian dengan merk lokal. Tampaknya beliau miris melihat pola bisnis saya yang tidak berkembang). 

Saya tersenyum malu-malu (karena saya emang pemalu). Maunya saya jawab enggak, tapi saya tahu beliau cuma ingin mendengarkan jawaban yang ia inginkan. Jadi saya jawab, "Ya mau donk, om!"

"Nah gitu donk!" si Bapak tersenyum senang.

Saya tersenyum manis penuh kepalsuan. 

...

Hey, bukannya saya nggak ingin 20 juta. Saya mau aja. Tapi perbincangan singkat dengan sang Bapak membuat saya mempertanyakan apakah motivasi menjadikan uang sebagai tujuan hidup adalah hal yang baik. 

Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu. Seorang teman tumben-tumbennya datang bersilaturahmi ke rumah. Saya langsung mengendus sesuatu.... karena seorang teman yang tidak cukup akrab tiba-tiba "ngajak silaturahmi" biasanya tujuannya cuma satu: menawarkan produk MLM!

Dengan teknik level marketing yang cukup mahir, ia membuka perbincangan dengan pertanyaan-pertanyaan retoris semacam ini, "Niken, kamu nggak pengen punya kapal pesiar? nggak pengen punya mobil mewah? nggak pengen punya rumah mewah?".

Saya cuma tersenyum palsu dengan maksud menghormati, lantas mendengarkannya bercerita tentang bisnis MLM yang ia tawarkan.

Sungguh, strategi menawari saya dengan kapal pesiar, mobil mewah, rumah mewah, dll adalah strategi yang tidak mempan buat saya. Saya nggak menginginkan hal-hal itu. Eh, bukannya munafik sih, kalau ada yang nawarin saya ya enggak nolak. Tapi saya tidak pernah menjadikan itu sebagai  - katakanlah - "life goal achievement".

Dahulu waktu di kampus saya juga pernah mengikuti semacam pelatihan kepemimpinan. Seorang senior menyuruh kami membuat tulisan tentang mimpi dan cita-cita kami. Saya nggak ingat persis apa yang saya tulis, saya cuma ingat kalimat pertamanya. Lalu secara kebetulan, kok ya saya yang diminta jadi yang pertama untuk membacakan tulisan saya tentang mimpi dan cita-cita saya.

"Mimpi dan harapan saya adalah saya ingin hidup bahagia," demikian saya berkata penuh percaya diri.

Eh, satu ruang ketawa. Pikir mereka saya bercanda, padahal saya serius nggak ada maksud ngelawak. Kemudian saya baru ngeh bahwa yang dimaksud adalah cita-cita semacam "kerja di mana", "menjadi apa", dan hal-hal semacam itu.

Sungguh cita-cita saya sangat sederhana (dan tidak berbobot!).

...

Saya nggak munafik sih, saya ya pengen duit banyak. Tapi dari dulu kalau saya kepikiran punya duit banyak, yang saya inginkan adalah membelanjakan uang tersebut untuk makan enak dan beli buku. Mungkin bolehlah dipake untuk travelling (yang pasti saya kepengen ke Amerika Serikat, road trip dari East Coast to West Coast naik mobil sambil dengerin folk song.. whew!).



Saya ga kepikiran untuk membelanjakan uang saya untuk beli baju mahal, atau mobil mewah, atau travelling "cantik" ala selebgram yang bisa travelling dengan sempurna itu (because wearing high heels while travelling in exotic country is a big thing!). Mungkin kemewahan yang saya inginkan sebatas punya perpustakaan pribadi atau home theatre di rumah, dan jaminan asuransi kesehatan di rumah sakit yang bisa dipercaya. Lalu kalau ada sisa saya pengennya bikin yayasan non-profit, atau pengen ngebantu orang-orang miskin yang sakit, atau semacam menyumbangkan sebagian besar uang saya untuk pelestarian lingkungan. Intinya, saya jadi pengen orang kaya macam Bill Gates, Mark Zuckerberg atau Elon Musk. 

Pernah ibu saya bercerita soal dirinya yang tidur di rumah teman beliau yang kaya raya di Jakarta. Punya rumah besar banget, 3 lantai (dengan lift), terletak di pusat kota yang harga tanahnya selangit. Keluarga mereka adalah keluarga pebisnis handal yang kenal baik dengan pejabat-pejabat negeri ini. Ibu saya dijamu makan malam mewah: roast salmon dan tiramisu cake. Mendengar keseluruhan ceritanya, saya cuma ngiler kepengen makan roast salmon dan tiramisu cake-nya. Nggak ada tuh ngarep pengen punya rumah mewah...

Ah, tapi mungkin saya bisa bilang gitu soalnya saya sekarang nggak punya duit. Mungkin begitu saya punya duit banyak saya juga bakalan hidup glamor seperti bos First Travel atau koleksi mobil mewah kayak Roro Fitria.

...

Karena itu saya pun heran, bagaimana orang dengan motivasi dan kepercayaan diri serendah ini dan sama sekali tidak ambisius, malah berkecimpung di dunia bisnis dan perdagangan. Sejujurnya, yang saya cintai dari bisnis yang saya kerjakan ini sebatas proses kreativitasnya saja, tapi tidak dengan seluk beluk bisnis-nya yang memusingkan kepala. Ditambahlagi, sebagai seseorang yang rada berhaluan sosialis (ngakunya), saya paling anti dengan usaha-usaha bisnis berbau kapitalis. Klop sudah ga akan pernah jadi kaya!

Sekedar sebuah curhatan pribadi, kadang saya mikir apa stagnansi pekerjaan yang saya tekuni ini karena saya terlalu takut untuk melangkah keluar dari zona nyaman saya. Saya tahu saya memang harus keluar dari zona nyaman saya ini jika ingin "maju", tapi untuk bisa keluar dari jebakan comfort zone ini seenggaknya saya harus punya motivasi yang kuat, dan itu tak kunjung saya dapatkan. Saya bahkan nggak tahu apa tujuan hidup saya (dan apakah setiap orang perlu punya tujuan hidup?). Kini saya susah membedakan apakah saya ini cuma pemalas atau seorang eksistensialis (yang pemalas!).

...

Demikian pula dalam memilih pasangan hidup, saya tidak pernah silau dengan kendaraan yang dipunyai pasangan. Ada nilai-nilai tertentu dari calon pasangan yang bagi saya jauh lebih menarik hati daripada penghasilannya (atau penghasilan orangtuanya). Lagipula saya juga bukan tipe cewek-cewek yang minta dibelanjain ini itu... (saya cuma cukup ditraktir makan enak!).  

Bagi saya, ada nilai-nilai dalam hidup yang nilainya jauh lebih berharga dari uang. Seperti persahabatan, keluarga, kreativitas, kasih sayang, integritas, dan idealisme. Biarpun kerjaan saya sekedar sebuah small business, tapi saya menyukai dan menikmati proses menjalankannya yang saya kerjakan sendiri. Saya bisa menaruh idealisme dan kreativitas saya sepenuhnya di sini. Walaupun tentu saja, menjalankan bisnis dari passion ini kadang bisa bikin stress juga karena belum tentu berhasil....

And you know, kita butuh keberhasilan untuk bisa punya harga diri di mata masyarakat (terlebih lagi, demi orang tua!).

Saya kira nggak banyak orang bisa paham nilai-nilai "kenikmatan" yang saya jalankan ini. Termasuk sang Bapak yang saya ceritakan di depan. Saya tahu maksudnya baik, namun saya mendapat kesan bahwa beliau sedikit memaksakan standar hidupnya ke orang lain. 

...

Kelihatannya saya seperti cewek idaman yaa.. cewek bersahaja yang enggak matre. 

Eits, tapi bayangkanlah jika semua orang seperti saya yang pasif, damai, dan submisif. Dari skala evolusi, jika manusia diciptakan tanpa ambisi materialistis seperti saya, mungkin manusia akan tetap hidup nomaden dan jadi umat primitif. Tanpa ambisi materialistis, revolusi industri mungkin tidak akan pernah tercapai. Para kapitalis jadi orang-orang sederhana nan bersahaja bak Dalai Lama atau Mahatma Gandhi. Er... dunia mungkin akan jadi damai, tapi itu pasti dunia yang sangat membosankan. 

Menjadikan uang sebagai motivasi dan tujuan hidup nggak selamanya buruk kok.

Anda boleh mencaci maki kapitalisme, namun kapitalisme dan motivasi duit menggerakkan umat manusia melakukan hal-hal yang menakjubkan. Amin!

Komentar

Postingan Populer